Gayo merupakan pemasok kopi arabica terbesar di Asia. Kopi Gayo sendiri adalah kopi specialty terbaik di dunia. Tidak semua tempat bisa menghasilkan kopi specialty dengan keunggulan yang tinggi. Kopi Gayo dikenal sebagai kopi yang memiliki ciri khas tersendiri yang sangat disukai rasa dan aromanya oleh konsumen kopi dunia, sebagai berkah dari iklim mikro (microclimates) khusus sebuah dataran tinggi. Kekhususan kopi Gayo, menurut Asosiasi Kopi Specialty Amerika atau SCAA (Specialty Coffee Association of America), memiliki rata-rata skor cupping 84-88, yang diterjemahkan memiliki rasa cup penuh, dan sedikit atau tidak ada cacat sama sekali.

Erna Knutsen adalah orang yang pertama sekali mencetus istilah specialty coffee pada konferensi kopi international di Montreuil, Perancis, tahun 1978. Dia menjelaskan secara ringkas kopi specialty adalah, “special geographic microclimates produce beans with unique flavor profiles.” (kopi yang dihasilkan oleh kondisi iklim mikro suatu daerah khusus tertentu dengan ciri khas karakternya yang unik.)

Ric Rhinehart dari SCAA menambahkan bahwa setelah lebih dari 20 tahun berlalu sejak diperkenalkan istilah tersebut oleh Erna Knutsen, ide dasar dari penamaan kopi specialty ini tidak lagi berorientasi semata pada asal muasal kopi tersebut didatangkan, tetapi juga harus mencakup perlakuan terhadap kopi setelah dipanen, perlakuan dalam pengolahan senantiasa keadaan baru (freshly roasted), hingga perlakuan yang pantas dalam penyajiannya (properly brewed).

Dataran tinggi Tanah Gayo merupakan wilayah di Provinsi Aceh, Indonesia, satu bagian dari gugusan Bukit Barisan yang terbentang sepanjang pulau Sumatra pada ketinggian 1200 meter dari permukaan laut, yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Gayo adalah penghasil kopi arabika terbesar di Asia Tenggara. Kopi arabika sudah ada di Gayo sejak tahun 1908. Nama Gayo sendiri adalah nama suku yang mendiami wilayah tersebut. Tercatat masyarakat Gayo saat ini berjumlah lebih kurang 85.000 jiwa. Secara demografis, masyarakat Gayo adalah penduduk yang menduduki tiga kabupaten di Aceh, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

Masyarakat Gayo sudah mengenal tanaman kopi jauh sebelum Belanda masuk ke Gayo pada 1904. Tetapi mereka belum mengerti pemanfaatan bijinya sebagai minuman. Mereka menyebutnya sebagai pohon “kawa” atau “sengkawa”, menggunakan daunnya sebagai teh yang diminum setelah diseduh dengan air panas. Masyarakat Gayo modern menyebut kopi dengan istilah “sengkewe” atau “kewe.” Hanya saja budidaya kopi secara besar-besaran baru dilakukan oleh Belanda, yaitu dengan membuka tiga perkebunan kopi besar seluas 20 ribu hektar, bersamaan dengan dibukanya jalan raya menuju Gayo. Saat ini, perkebunan kopi Gayo milik rakyat berkisar 95 ribu hektar, menjadikan Gayo sebagai pengeksport kopi Arabika terbesar di Asia dengan jumlah estimasi produksi sebesar 8.9 ribu ton pertahun.

* * *

DOANI KUPI

Orom Bismillah,
Sengkewe
kunikahen ko orom kuyu
wih kin walimu
tanoh kin saksimu
mantanlo kin saksi kalammu”

(Dengan Bismillah,
Sengkewe kunikahkan dengan angin,
air untuk walimu,
tanah untuk saksimu,
matahari untuk saksi kalammu)